Loading...

Follow Mother and Baby Indonesia | Toddlers on Feedspot

Continue with Google
Continue with Facebook
or

Valid

Alergi merupakan reaksi berlebihan yang dilakukan tubuh terhadap benda asing di sekitarnya, yang disebut alergen. Reaksi tersebut muncul karena tubuh salah mengartikan zat yang masuk sebagai suatu yang berbahaya. Ada berbagai macam jenis alergi yang dapat menyerang Si Kecil, mulai dari asma, dermatitis atopik atau dikenal dengan sebutan eksim, urtikaria, rinitis, dan sebagainya.

Beberapa kondisi ini umumnya disebabkan oleh susu sapi, beberapa jenis ikan, dan protein yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu, alergen juga bisa berasal dari lingkungan sekitar, seperti serangga, bulu binatang, serbuk sari, atau bahan makanan (kacang-kacangan dan telur), bahan kimia, logam, polusi udara dan rokok.

Alergi paling banyak ditemukan pada anak berusia di bawah dua tahun, terutama saat usianya tiga bulan. Pada usia tersebut, Si Kecil sangat rentan terkena alergi, karena sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang secara sempurna. Munculnya alergi juga tidak selalu muncul di saat pertama atau kedua ia terpapar alergen.


Gejala Alergi

Berikut gejala alergi yang dialami oleh Si Kecil, Moms:

• Gangguan kulit: Timbul rasa gatal atau ruam pada kulit, serta eksim pada kulit Si Kecil.

• Gangguan pernapasan: Si Kecil akan batuk pilek berulang kali, muncul mengi atau napas yang berbunyi, serta asma.

• Gangguan pencernaan: gejalanya ditandai dengan diare, muntah, dan sembelit yang dialami Si Kecil.


Deteksi Pencetusnya

Dokter Endah Citraresmi, Sp.A, Ahli Alergi Anak RSIA Harapan Kita mengatakan cara paling tepat untuk mencegah dan mengatasi alergi adalah dengan menghindari pencetusnya. Hal itu dapat diketahui melalui beberapa diagnosis berikut ini:

1. Sejarah alergi

Informasikan kepada dokter segala hal tentang riwayat penyakit yang diderita keluarga. Keterangan itu berguna untuk membantu dokter mendiagnosis kemungkinan alergi yang dimiliki Si Kecil.

2. Asupan makanan harian

Saat memberikan MPASI pertama kali pada Si Kecil, sangat dianjurkan untuk memulainya dengan memperkenalkan satu jenis makanan saja, selama 3-4 hari berturut-turut. Proses itu berguna untuk mengetahui ada atau tidaknya reaksi alergi dari makanan yang diberikan.

3. Lakukan prick test

Cara medis yang paling sering dilakukan untuk mendeteksi alergi saat ini adalah dengan melakukan prick test. Tahapan melakukan tes tersebut adalah sebagai berikut:

• Kulit di daerah tangan Si Kecil akan dituliskan nomor urut dan kode tersebut.

• Zat yang merupakan ekstrak dari sejumlah alergen diteteskan di samping nomor irit dan kode tersebut.

• Setelah didiamkan beberapa saat, akan terlihat reaksi di kulit tangannya. Jika muncul bentol kemerahan, maka dapat dipastikan bahwa zat tersebut merupakan alergen bagi Si Kecil.


Bisakah Disembuhkan?

Alergi yang dimiliki sejak kecil belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Sebagian ahli beranggapan, jika seorang anak memiliki alergi, maka ia akan terus membawanya hingga dewasa. Hanya saja manifestasi alerginya akan berubah.

Misalnya, saat masih bayi, gejala alergi yang terjadi mungkin berupa ruam merah pada kulit. Namun ketika dewasa, gejala tersebut berubah menjadi rhinitis atau sering bersin jika terkena pencetus alergi atau alergennya. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Kasus keterlambatan bicara pada anak atau juga sering disebut speech delay semakin sering terjadi. Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia, diperkirakan 5-8 persen anak usia prasekolah mengalami speech delay. Agar itu tidak terjadi pada anak Anda, maka ikuti beberapa cara untuk mencegah speech delay pada anak, yuk.

Menurut dr. Dwi Putro Widodo, SpA(K), M.Med, dari RSPI Pondok Indah, Anda perlu memerhatikan syarat-syarat apa saja yang dibutuhkannya. Pertama, indra pendengarannya harus berfungsi baik, guna mengetahui perbendaharaan kata yang dibutuhkan. Ada anak yang hanya mendengar di separuh frekuensi suara, sehinga ia hanya bisa mengucapkan penggalan kata, misalnya “kan” untuk makan, atau “num” atau minum. 

Kedua, otaknya cukup baik untuk menyimpan perbendaharaan kata yang telah ia dengar. Ketiga, otot-otot dan saraf pada organ mulutnya dapat melafalkan kata-kata. Jika semua syarat tadi tidak bermasalah, maka besar kemungkinan telat bicaranya hanya karena ia belum bisa mengoordinasikan kata-kata.


Stimulasi yang Tepat

Anda bisa melakukan stimulasi seperti berbicara lambat-lambat sambil menatap matanya, menggunakan bahasa tubuh Anda untuk mengartikan kata. Menurut laman Kids Health, ini beberapa stimulasi sesuai usia anak yang bisa Anda coba untuk mencegah speech delay:


0-12 Bulan

• Ajak ngobrol. Ini juga efektif untuk meningkatkan perbendaharaan kata Si Kecil lho, Moms.

• Membuat suara. Ikuti suara yang dihasilkan bayi Anda, walau mungkin hanya suara “Ma.” Tunjukkan kalau Anda menyimak ucapannya.

• Merespons. Entah Si Kecil sekadar bersuara, tertawa, atau membuat ekspresi wajah lucu, Anda bisa merespons dan menirukannya.

• Membacakan buku. Pilih softbook yang kaya akan warna dan tekstur, sehingga pasti disukai Si Kecil. Anda tidak perlu membacakan semua kata di buku tersebut, yang penting deskripsikan gambar yang dilihat Si Kecil.

• Belajar mengenal warna dan bentuk dengan mainan-mainan yang aman untuk anak seusianya.


1-2 Tahun

• Ajak anak menghitung semua yang ia lihat. Bisa berapa banyak buku yang ada di rak, berapa krayon di dalam kotak, atau ada berapa ikan di kolam. Sederhana, tetapi menstimulasi anak untuk aktif berbicara.

• Bermain ciluk ba. Sejak masih bayi, permainan yang satu ini tidak pernah gagal membuat Si Kecil kaget dan tertawa.

• Suara binatang. Ajak anak mengenal suara aneka binatang dan ajak ia menirukannya.

• Anak harus bisa mengikuti perintah sederhana, seperti “Tolong ambilkan mainan itu.” Maka jangan lupa sematkan latihan ini di sela waktu bermain Anda dan Si Kecil.

• Stimulasi anak berbicara 2 kata. Seperti, “mau makan” atau “minum susu.” Di usia ini anak sudah harus bisa mengucapkan kalimat berisi 2 kata, walau pengucapannya belum begitu jelas.


2-3 Tahun

• Bicara dengan jelas pada anak, karena ia akan mengikutinya.

• Beri pertanyaan pilihan pada anak. “Kamu mau jus jambu atau jus alpukat?”

• Bantu anak mengenal bagian tubuh dan apa yang bisa ia lakukan dengan bagian tubuh tersebut. Ini menstimulasi anak merangkai kata, sehingga mencegah speech delay.

• Bermain seru dengan melempar pertanyaan berjawaban ya atau tidak, lakukan bergantian. Tanyakan, “Bisakah kucing terbang?” atau pertanyaan semacamnya.

• Minta anak menyanyi lagu sederhana, karena ini membantunya menguasai ritme dalam berbicara. (Tiffany Warrantyasri/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Tahukah Moms, masalah makan yang dialami Si Kecil saat bayi dan balita, misalnya tersedak dan picky eater dapat menjadi gangguan makan seperti bulimia dan anoreksia? Oleh karena itu, sangat penting untuk mendeteksi dini gangguan makan yang terjadi agar Si Kecil tidak memiliki ketakutan tertentu terhadap kegiatan makan.

Disadari atau tidak, gangguan makan yang terjadi pada pertengahan masa kanak-kanak merupakan kelanjutan dari gangguan makan pada bayi dan balita yang luput ditangani.


Mewaspadai Gangguan Makan Anak

Sebagian besar literatur tentang gangguan makan menyebutkan bahwa masalah bulimia umumnya terjadi pada wanita dewasa. Namun, faktanya ditemukan pula penderita bulimia di usia balita. Ini menunjukkan bahwa gangguan tersebut juga terjadi pada anak-anak usia dini, ketika mereka sudah terampil makan.

Sementara, gejala dini gangguan bulimia dan anoreksia baru mulai jelas teramati saat mereka menginjak usia 4-5 tahun. Bahkan di AS, 2 dari 100 anak mengalami bulimia dan anoreksia.

Psikolog Tara de Thouars, BA, M.Psi menyebutkan bahwa di AS, fenomena bulimia dan anoreksia memang sudah lazim terjadi. Itulah sebabnya 2 jenis gangguan makan ini dimasukkan ke dalam kategori diagnosis eating disorder dalam The Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders Edisi ke-4 (DSM-IV).


Bulimia vs Anoreksia

Meskipun keduanya termasuk gangguan makan, bulimia dan anoreksia berbeda. Bulimia adalah kondisi gangguan makan yang ditandai dengan pola makan yang sangat berlebihan, dikenal dengan periode bingeing lalu diikuti dengan periode purging. Si Kecil cenderung makan banyak, tetapi kemudian memuntahkan makanannya kembali atau dengan sengaja memasukkan jari-jemarinya untuk membuat makanannya keluar dari perut.

Sementara anoreksia merupakan gangguan makan yang dikategorikan dengan perilaku diet atau olahraga yang berlebihan demi mengurangi berat badan, seringkali hingga kondisi tubuh menjadi kelaparan. Namun, kasus anoreksia pada anak-anak sangat jarang terjadi.


Hati-Hati Anak Meniru Anda!

Anak-anak merupakan peniru yang ulung. Itulah sebabnya Anda mesti ekstra hati-hati dalam berperilaku sehari-hari. Bulimia yang dilaporkan terjadi pada wanita dewasa bisa saja muncul pada diri Anda.

Dengan alasan ingin kembali langsing setelah melahirkan dan menyusui, Anda menempuh cara-cara instan yang keliru seperti bulimia ini. Saat Anda memuntahkan kembali makanan Anda usai makan bersama, bukan tak mungkin hal ini terlihat Si Kecil dan ia tergerak untuk meniru perilaku Anda tersebut. Awalnya hanya meniru, tapi lama-kelamaan dapat menjadi kebiasaan yang tentu saja bersifat buruk.

Selain itu, menurut Tara, anak-anak yang tumbuh di lingkungan konflik juga berisiko terkena gangguan makan. Mereka cenderung merasa tidak aman, sehingga bisa berperilaku menyimpang.


Bulimia Pengaruhi Fungsi Tubuh

Jangan anggap remeh gangguan bulimia pada Si Kecil karena hal ini dapat memengaruhi kelancaran fungsional tubuhnya yang sedang aktif-aktifnya tumbuh. Bulimia akan menyebabkan gangguan pada sejumlah organ tubuh, antara lain:

• Otak: Depresi, takut gemuk, mudah cemas, cenderung malas, malu, dan percaya diri rendah.

• Otot: Mudah lelah

• Lambung: Tukak lambung, nyeri, koyak, kosong

• Kulit: Abrasi buku-buku jari, kulit kering

• Darah: Anemia

• Jantung: Denyut jantung tidak teratur, otot jantung lemah, serangan jantung, tekanan darah rendah.

• Usus halus: Sembelit, BAB tidak teratur, kembung, diare, perut kram.

• Hormon: Produksi abnormal


Sembuhkan Segera!

Anak-anak yang menderita bulimia tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, tindakan pertolongan harus segera diberikan, dimulai dengan berkonsultasi pada dokter ahli. Terapi yang tepat dan komprehensif serta pendekatan psikologis akan bisa membantu Si Kecil sembuh dari bulimia.

Yang juga penting, ternyata, para orang tua yang membiasakan untuk makan bersama dengan anak-anak mereka bisa mencegah bulimia, seperti dilaporkan tim peneliti dalam Journal Pediatrics. (M&B/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Pemberian makanan bernutrisi baik merupakan dasar agar Si Kecil dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Namun sering kali, proses pemberian nutrisi ini terkendala, karena ia susah makan. Si Kecil seakan memiliki banyak sekali strategi untuk menolak makanan yang diberikan, hingga tak jarang membuat Anda menyerah.

Tantangan dalam memberi makan kepada Si Kecil tidak berhenti sampai di sana. Semakin besar, ia mulai menjadi picky eater alias si pemilih makanan. Anda pun akan mengalami kesulitan untuk memberikan asupan yang sehat kepadanya, seperti sayuran, buah-buahan, dan lainnya. Jangan menyerah! Lakukan 10 trik berikut ini agar Si Kecil tumbuh sebagai pecinta makanan sehat.


1. Libatkan dalam Memilih Menu

Berikan kesempatan pada Si Kecil untuk ikut menentukan menu yang akan dikonsumsi saat sarapan, makan siang, dan makan malam, berikut makanan selingannya. Ajak ia juga untuk berbelanja bahan, menyiapkan dan menyajikannya di meja makan. Hal ini akan membuat Si Kecil lebih antusias untuk menikmati makanannya.


2. Mengolah Sendiri

Ajak Si Kecil ke dapur dan biarkan ia membantu Anda mengolah menu yang ia pilih. Dengan begitu, Anda juga bisa menentukan kadar gula non-kalori dan mengubahnya dengan rasa manis dari buah-buahan atau gula merah.


3. Tambahkan Penyedap Organik

Si Kecil terkadang tidak mau makan, karena ia membutuhkan ‘tambahan rasa’ pada makanannya. Untuk itu, Anda boleh menambahkan kecap atau saus tomat di dalamnya, namun pilih yang terbuat dari bahan organik rendah gula. ‘Penyedap’ ini biasanya berhasil membuat Si Kecil menghasilkan makanan dan Anda pun akan terhindar dari rasa frustrasi dalam proses pemberian makan ini.


4. Beri Penghargaan

Memberikan rewards, berupa pujian atau hadiah kecil sangat dianjurkan dalam proses mengajarkan Si Kecil mencintai makanan sehat. Dengan mendapatkan hadiah, ia akan terpacu untuk menghabiskan makanan sehat yang Anda berikan. Hal itu pun akan membuatnya terbiasa melakukan pola makan sehat hingga dewasa.


5. Belajar Berkebun

Mengajak Si Kecil terlibat dalam menyiapkan bahan makannya sendiri juga menjadi kunci utama untuk mengajarkan pola makan sehat. Anda bisa melakukannya dengan mengajak Si Kecil menanam sayuran hijau di halam rumah dan ikut memetiknya ketika sudah siap dipanen. Dengan begitu, ia akan jauh lebih tertarik untuk mengonsumsi makanan segar dan sehat setiap harinya.


6. Siapkan Camilan Sehat

Tidak peduli ke mana pun Anda dan Si Kecil akan pergi, bawa selalu camilan sehat yang siap untuk dinikmati jika ia mengeluh lapar, seperti pisang atau anggur. Sebab, buah-buahan merupakan camilan sehat sekaligus praktis untuk dibawa ke mana saja, dibandingkan camilan kemasan.


7. Nikmatnya Smoothies

Salah satu cara mudah untuk membiasakan Si Kecil makan sayur-sayuran adalah dengan membuatnya menjadi smoothies di pagi hari. Anda bisa menghaluskan beberapa jenis sayuran, seperti bayam organik dan kubis, dicampur dengan gandum yang sudah dicuci bersih.


8. Ciptakan Kesenangan

Ajaklah Si Kecil makan dengan cara yang menyenangkan, seperti piknik di halaman belakang sambil menikmati makan siang atau mengundang beberapa temannya untuk makan bersama. Menu sehat sederhana yang Anda siapkan untuk Si Kecil pasti akan terasa lebih lezat kalau dinikmati dengan cara-cara ini. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Sebenarnya, begitu gejala flu terlihat, Anda dapat mencegah agar penyakit itu tidak semakin parah. Sayangnya, karena gejala flu dan penyakit lain yang disebabkah oleh virus, sangat mirip, orang tua kadang tidak bisa cepat tanggap menghadapinya. Nah, sekarang Anda tahu lebih banyak mengenai virus flu itu dengan mengetahui beberapa fakta di bawah ini.


1. Kenali Gejala Flu

Dari segi media, gejala flu pada umumnya adalah batuk, mata merah, hidung mampat, dan hidung berlendir, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Dan dari segi psikologis, Si Kecil menunjukkan tanda-tanda kehilangan nafsu makan dan mudah marah atau gelisah.

Pada gejala yang lebih serius, anak akan mengalami demam dengan suhu badan 38 celcius atau lebih, popoknya kering, dan lendir hidung berwarna kehijauan atau cokelat. Selain itu, keluar cairan kekuningan dari mata anak juga bisa menjadi gejala pada kasus yang lebih serius.

Bayi akan lebih rentan terkena flu dan pilek karena sistem imunitasnya belum sempurna dan belum sebaik anak-anak yang lebih besar. Untuk mengobatinya, pastikan bayi cukup istirahat dan cukup ASI ya, Moms.


2. Perbedaan Pilek dan Flu

Flu seringkali diduga karena serangan pilek yang sangat parah, tetapi sebenarnya, kedua penyakit itu disebabkan oleh virus yang berbeda. Sayangnya, virus-virus tersebut selalu berkembang dan menyebar lewat udara, sehingga akan bisa terpapar. Adapun perbedaan pilek dan flu adalah:

 • Pada pilek, ingus yang keluar dari hidung cukup banyak.

 • Flu menyebabkan demam tinggi, sedangkan pilek tidak.

 • Flu menyebabkan gangguan pada perut dan bahkan mengakibatkan diare.

 • Pilek biasanya bertambah parah secara bertahap, sedangkan flu bertambah para dengan sangat cepat.


3. Perbedaan Kemampuan Bernapas

Saat sedang flu, bayi Anda masih dapat bernapas melalui hidung, kecuali terdapat benda asing yang menghambat saluran pernapasannya. Namun saat pilek, di mana rongga napas penuh dengan lendir, ia memang harus berjuang untuk bernapas.

Bayi yang pilek cenderung kehilangan nafsu makan karena mulutnya dipakai untuk memasukkan udara. Untuk melancarkan pernapasan anak, bawa ia ke dalam ruangan dengan uap panas. Uap akan membantu memecahkan gumpalan lendir di saluran hidung. Jika lendir itu mengganggu tidur anak, maka Anda bisa menggunakan obat tetes hidung sesuai resep dokter anak. Itu berguna untuk mencairkan ingus anak dan kemudian bersihkan lendir dengan nasal aspirator.




4. Beda Cara Mencegah

Beberapa cara untuk mencegah pilek pada anak adalah:

 • Menutup mulut dan hidung saat bersin dan batuk.

 • Mencuci tangan dengan sabun secara rutin.

 • Tidak membiarkan anak dalam kondisi yang basah atau pakaian lembap.

 • Menjauhkan anak dari asap rokok.


Perlu Anda ketahui bahwa bayi yang hidup serumah dengan perokok, akan mengalami flu dan pilek dalam jangka waktu yang lebih lama dari bayi yang tidak terpapar asap rokok.


5. Durasi Pilek

Gejala serangan flu pada bayi biasanya berlangsung selama 4-5 hari. Tetapi bila disertai batuk, penyakit flu tersebut akan menyerang Si Kecil lebih lama lagi yakni lebih dari 6 hari. Jika Si Kecil masih terlihat kuat dan nafsu makan dan minumnya masih normal, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun agar lebih pasti, sebaiknya periksakan anak ke dokter ya, Moms. (M&B/Tiffany/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Pemberian makanan bernutrisi baik merupakan dasar agar Si Kecil dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Namun sering kali, proses pemberian nutrisi ini terkendala, karena ia susah makan. Si Kecil seakan memiliki banyak sekali strategi untuk menolak makanan yang diberikan, hingga tak jarang membuat Anda menyerah.

Tantangan dalam memberi makan kepada Si Kecil tidak berhenti sampai di sana. Semakin besar, ia mulai menjadi picky eater alias si pemilih makanan. Anda pun akan mengalami kesulitan untuk memberikan asupan yang sehat kepadanya, seperti sayuran, buah-buahan, dan lainnya. Jangan menyerah! Lakukan 10 trik berikut ini agar Si Kecil tumbuh sebagai pecinta makanan sehat.


1. Libatkan dalam Memilih Menu

Berikan kesempatan pada Si Kecil untuk ikut menentukan menu yang akan dikonsumsi saat sarapan, makan siang, dan makan malam, berikut makanan selingannya. Ajak ia juga untuk berbelanja bahan, menyiapkan dan menyajikannya di meja makan. Hal ini akan membuat Si Kecil lebih antusias untuk menikmati makanannya.


2. Mengolah Sendiri

Ajak Si Kecil ke dapur dan biarkan ia membantu Anda mengolah menu yang ia pilih. Dengan begitu, Anda juga bisa menentukan kadar gula non-kalori dan mengubahnya dengan rasa manis dari buah-buahan atau gula merah.


3. Tambahkan Penyedap Organik

Si Kecil terkadang tidak mau makan, karena ia membutuhkan ‘tambahan rasa’ pada makanannya. Untuk itu, Anda boleh menambahkan kecap atau saus tomat di dalamnya, namun pilih yang terbuat dari bahan organik rendah gula. ‘Penyedap’ ini biasanya berhasil membuat Si Kecil menghasilkan makanan dan Anda pun akan terhindar dari rasa frustrasi dalam proses pemberian makan ini.


4. Beri Penghargaan

Memberikan rewards, berupa pujian atau hadiah kecil sangat dianjurkan dalam proses mengajarkan Si Kecil mencintai makanan sehat. Dengan mendapatkan hadiah, ia akan terpacu untuk menghabiskan makanan sehat yang Anda berikan. Hal itu pun akan membuatnya terbiasa melakukan pola makan sehat hingga dewasa.


5. Belajar Berkebun

Mengajak Si Kecil terlibat dalam menyiapkan bahan makannya sendiri juga menjadi kunci utama untuk mengajarkan pola makan sehat. Anda bisa melakukannya dengan mengajak Si Kecil menanam sayuran hijau di halam rumah dan ikut memetiknya ketika sudah siap dipanen. Dengan begitu, ia akan jauh lebih tertarik untuk mengonsumsi makanan segar dan sehat setiap harinya.


6. Siapkan Camilan Sehat

Tidak peduli ke mana pun Anda dan Si Kecil akan pergi, bawa selalu camilan sehat yang siap untuk dinikmati jika ia mengeluh lapar, seperti pisang atau anggur. Sebab, buah-buahan merupakan camilan sehat sekaligus praktis untuk dibawa ke mana saja, dibandingkan camilan kemasan.


7. Nikmatnya Smoothies

Salah satu cara mudah untuk membiasakan Si Kecil makan sayur-sayuran adalah dengan membuatnya menjadi smoothies di pagi hari. Anda bisa menghaluskan beberapa jenis sayuran, seperti bayam organik dan kubis, dicampur dengan gandum yang sudah dicuci bersih.


8. Ciptakan Kesenangan

Ajaklah Si Kecil makan dengan cara yang menyenangkan, seperti piknik di halaman belakang sambil menikmati makan siang atau mengundang beberapa temannya untuk makan bersama. Menu sehat sederhana yang Anda siapkan untuk Si Kecil pasti akan terasa lebih lezat kalau dinikmati dengan cara-cara ini. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Seiring dengan perkembangan mental dan kemandiriannya, akan ada saatnya Si Kecil mengacuhkan apa yang Anda katakan. Untuk menghadapinya, Anda perlu memikirkan cara mudah untuk mengenalkannya pada perbedaan perilaku baik dan buruk.

Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan di situs myvouchercodes.co.uk, menemukan bahwa 68 persen orang tua menggunakan ‘langkah keras’ sebagai wujud disiplin, seperti berteriak atau menghukum. Benarkah langkah ini?

“Tak pendekatan disiplin yang benar-benar sesuai dengan semua anak. Jadi, orang tua perlu mengetahui variasi teknik untuk mengajarkan Si Kecil perilaku yang baik,” ujar Joanne Mallon, penulis buku Toddlers: An Instructor Manual. Berikut beberapa variasi tekniknya:


1. Hitung Sampai 3

Jika Si Kecil terlalu muda untuk mengetahui konsep baik dan buruk, ataupun nakal dan tidak nakal, perkataan dan peringatan dari Anda akan lebih mempan. “Balita memiliki kemampuan untuk memahami bahasa lebih dari yang Anda sadari. Jadi, peringati ia untuk berhenti melakukan apa pun yang sedang ia lakukan, ketika Anda sudah mulai menghitung sampai tiga, karena itu berarti ia sedang berperilaku buruk,” ujar Joanne.

Anda juga perlu menerapkan konsekuensi dari tindakan Si Kecil, baik ia mematuhi peringatan Anda atau tidak. Pastikan juga Anda konsisten dengan konsekuensi yang diberikan jika ia melanggar peringatan Anda.


2. Sadari Pencetusnya

Menghindari terjadinya tantrum dan kerewelan adalah taktik utamanya. “Pada banyak kasus, tantrum terjadi karena suatu pencetus, misalnya terlalu lelah atau lapar. Jadi, akan sangat baik jika Anda menyadari tanda-tanda Si Kecil mulai lelah atau lapar, sebelum ia menjadi rewel,” jelas Joanne. Jika ia mulai rewel, segera alihkan perhatiannya pada hal lain atau nyanyikan lagu favoritnya.


3. Perhatikan saat Ia Berbuat Baik

Saat SI Kecil berbuat ‘nakal’, akan sangat mudah bagi orang tua untuk berkata, “Jangan” atau “Hentikan”. Namun, Joanne juga menyarankan Anda untuk memuji Si Kecil ketika ia berperilaku baik. Saat ia bermain dengan tenang dan menuruti kata-kata Anda, puji ia, maka ia akan belajar bahwa berperilaku baik memunculkan pujian dan penghargaan. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), autisme atau yang sekarang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (GSA) adalah kumpulan gangguan perkembangan dengan karakteristik lemahnya pada bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang atau minat terbatas. IDAI juga menyebutkan kalau angka kejadian autisme terus meningkat dari tahun ke tahun.

Autisme sendiri memiliki gejala-gejala yang belum dapat dihilangkan 100 persen dari diri penyandangnya, sehingga butuh dilakukan terapi sejak dini agar mereka bisa memiliki kualitas hidup yang baik. Namun untuk menentukan terapi yang paling cocok bagi anak penyandang autis, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui gangguan yang dialami, tingkat kemampuan yang dimilikinya dan hambatan-hambatan lain. Terapi-terapi untuk anak penyandang autis harus dilakukan secara terpadu karena antara terapi yang satu dengan yang lain saling melengkapi. Berikut beberapa jenis terapi untuk anak penyandang autis, Moms.


1. Fisioterapi

Penyandang autisme biasanya mengalami gangguan pada motorik kasar. Ada anak yang sangat hiperaktif, namun ada yang sangat pasif. Masalah motorik yang kerap timbul adalah anak berjalan jinjit, kesulitan untuk melakukan gerak sederhana, seperti memainkan tangan, kaki, atau kepala. Untuk mengatasinya, bisa diterapkan fisioterapi. Bentuk terapi latihan fisik ini antara lain senam untuk menguatkan otot, peregangan, pijatan di daerah otot yang tegang, dan latihan keseimbangan.


2. Applied Behavior Analysis (ABA)

ABA merupakan salah satu metode terapi perilaku. Dalam pengajarannya, ABA mengambil prinsip operant conditioning dan respondent conditioning, yaitu perilaku yang diinginkan dan tidak diinginkan yang dikontrol dengan sistem hadiah dan hukuman.

Jika perilaku yang diinginkan muncul, maka anak akan diberikan hadiah. Apabila yang muncul adalah perilaku yang tidak diinginkan, anak akan mendapatkan hukuman. Dengan demikian, anak akan belajar perilaku yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan.


3. Terapi Wicara

Biasanya gangguan komunikasi pada penderita autis terdiri dari gangguan verbal, non-verbal, dan kombinasi. Terapi wicara dilakukan untuk mengajarkan atau memperbaiki kemampuan berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional (mengungkapkan perasaan, mengenal kata benda, kata kerja, atau kemampuan memulai pembicaraan).

Sejumlah latihan yang biasanya dilakukan: bertepuk tangan dengan ritme yang berbeda, meniru bunyi vokal, mengulang kata dan kalimat, belajar mengenal kata benda dan sifat, merespons bunyi-bunyi dari lingkungan sekitar dan belajar membedakannya.


4. Terapi Okupasi

Terapi okupasi bertujuan untuk melatih kemampuan motorik halus mereka. Salah satu latihan yang biasa dilakukan adalah menyusun barang-barang kecil untuk melatih konsentrasi yang melibatkan kerja otak, mata, dan tangan secara bersamaan.

Untuk melatih motorik tangan, penyandang autisme juga diajari cara memegang pensil, pulpen, atau sendok dengan benar. Pada terapi ini, biasanya diajarkan juga melakukan kegiatan sehari-hari seperti cara memakai topi, sepatu, dan baju. Juga cara makan dan minum tanpa bantuan orang lain.


5. Terapi Biomedik

Terapi biomedik banyak diterapkan pada anak penyandang autis karena menurut penelitian, terdapat gangguan metabolisme dalam tubuh penyandang autis yang memengaruhi susunan saraf pusat. Terapi ini mencari sumber gangguan dan memperbaikinya, sehingga fungsi susunan syaraf pusat menjadi lebih baik. Pemeriksaan yang dilakukan biasanya melalui pemeriksaan darah, urine, rambut, dan feses.


6. Terapi Makanan

Mengatur pola makanan adalah hal penting untuk dilakukan pada penyandang autis. Ada beberapa makanan yang harus dihindari, yaitu yang mengandung gluten, kasein, serta zat lain seperti penambah rasa (MSG) pewarna makanan, gula sintetis, dan ragi yang digunakan untuk fermentasi makanan.

Menurut Edi Setya Pambudi, MA,Psy., dari Duta Pelita Insani Consulting, selain peran para terapis, peran orang tua dan keluarga sangat penting dalam keberhasilan terapi-terapi ini. Orang tua harus bisa berkomunikasi dengan sang anak, serta mengerti kebutuhan dan penanganan yang tepat agar bisa mempelajari dan mengembangkan terapi-terapi ini di rumah. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Uang jajan! Ya, isu ini masih saja menjadi pro dan kontra di kalangan para Moms. Ada yang setuju untuk memberikan uang kepada sang buah hati untuk membeli keperluannya sendiri. Namun tak sedikit yang menganggap kebiasaan tersebut membuat anak boros dan termasuk tindakan memanjakan anak. Benarkah begitu?

Dr. Benjamin Spock, dokter anak asal Amerika Serikat sekaligus penulis buku Baby and Child Care, mengatakan bahwa memberikan uang bukan tindakan memanjakan anak. Akan tetapi, cara Moms menggunakan uang tersebut bersama Si Kecil yang menentukan apakah Anda terlalu memanjakannya atau tidak.

Dengan kata lain, memberikan uang jajan tidak berarti memanjakan anak asalkan ada batasannya. Namun pertanyaan yang tak kalah penting, kapan Anda bisa mulai memberikan uang jajan kepada Si Kecil?

Psikolog anak dan keluarga, Indri Savitri, Psi, M.Psi, mengatakan bahwa pada usia balita, Si Kecil belum memahami dengan benar konsep uang jajan yang diberikan dengan alasan untuk belajar mengatur keuangan sendiri sejak dini. Yang ada di benak mereka hanyalah membeli apa yang diinginkan, bukan dibutuhkan. Hal tersebut akan mendorong balita tumbuh menjadi anak yang boros karena terbiasa memenuhi segala keinginannya.

Memberi uang jajan kepada balita juga dapat mengganggu pola makan dan memicunya untuk mengonsumsi makanan tak sehat. Jadi sebaiknya, orang tua memang tidak memberikan uang jajan kepada balita.

Di sisi lain, pemberian uang jajan bisa saja dilakukan ketika Si Kecil sudah menginjak usia lima tahun. Sebagian orang tua memilih untuk memperkenalkan uang jajan ketika anaknya mulai bersekolah di Sekolah Dasar (SD). Penulis buku A Parent’s Guide to Raising Money-Smart Kids, Robin Taub, mengaku dirinya memberi uang mingguan kepada kedua anaknya saat mereka sudah mulai bersekolah. Ketika anak-anak tersebut sudah duduk di bangku kuliah, Taub menilai keduanya memiliki kemampuan yang baik dalam membuat anggaran keuangan pribadi.


Waktu yang Tepat

Pada awal masa sekolah dasar, Moms bisa memberikan uang jajan secara harian kepada Si Kecil. Hal ini disebabkan karena mereka baru memulai latihan pengelolaan uang. Jika memberi setiap hari, setidaknya anak bisa membagi berapa jumlah yang bisa dibelanjakan dan jumlah yang harus disimpan.

Beri uang kepada anak secukupnya, tidak terlalu banyak dan juga tidak terlalu sedikit. Sesuaikan jumlah uang dengan harga rata-rata jajanan di sekolahnya. Jika Moms tak mau Si Kecil terlalu banyak jajan, Anda juga bisa membawakan bekal makanan ke sekolah. Dengan begitu, anak hanya akan jajan jika ia masih lapar atau memang benar-benar menginginkan barang atau makanan tersebut. 

Jangan lupa beri pengertian kepadanya bahwa tidak semua jajanan di sekolah sehat dan layak dikonsumsi. Ajarkan Si Kecil cara memilih jenis makanan dan minuman yang tidak berakibat buruk bagi tubuhnya.

Sebagai catatan, uang jajan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

• Biaya tak terduga. Jika sewaktu-waktu peralatan sekolah ada yang hilang, anak bisa langsung membelinya menggunakan uang jajan tersebut.

• Uang amal. Sebagian sekolah mengajarkan anak untuk rutin beramal di hari tertentu. Selain itu, anak juga bisa menggunakan uang jajannya untuk sumbangan jika ada keluarga siswa yang tertimpa musibah atau meninggal dunia.

• Bersosialisasi. Sesungguhnya, jajan bukan sekadar untuk memenuhi hasrat membeli sesuatu. Salah satu cara anak bersosialisasi dengan teman-temannya adalah dengan jajan. Selain itu, jajan juga melatih anak untuk menghitung pengeluarannya sendiri. Jadi Moms, batasi jajan anak tapi disarankan untuk tidak melarangnya secara total.


Mengelola Uang

Jangan berikan uang jajan kepada Si Kecil tanpa mengajarkan ia cara mengelolanya. Beri pengertian soal uang dan fungsinya. Moms, bisa memberitahu anak Anda agar menyisihkan sebagian uang jajannya untuk ditabung. Sediakan celengan dengan bentuk yang menarik agar anak juga termotivasi untuk menyisakan uang jajannya. Jika jumlah uang dalam celengan tersebut sudah cukup banyak, Moms bisa membuka rekening tabungan khusus anak di bank.


Uang Jajan bukan Imbalan

Sebagian orang tua mengiming-imingi uang jika anak mau melakukan kewajibannya atau melakukan tugas-tugas rumah. Akan tetapi banyak pakar keuangan yang kurang sepakat dengan pendekatan semacam ini.

“Saran saya, pisahkan uang jajan dari uang imbalan dari pekerjaan rumah tangga. Dengan begitu, anak akan mempelajari nilai kerja sama dan pengalaman dalam keluarga,” kata Aletha Solter, psikolog perkembangan dan pendiri Aware Parenting Institute di California, AS.

Perlu dipertimbangkan, saat ini anak-anak kerap menerima uang jajan tambahan entah dari paman dan bibinya, atau 'bisnis' kecil-kecilan di sekolah. Bukan tak mungkin, mereka menolak untuk melakukan tugas di rumah karena merasa tidak bergantung lagi dengan pemberian uang dari orang tuanya. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Tahukah Anda, kalau semua permasalahan antara orang tua dan anak bisa diselesaikan dengan sebuah pelukan hangat? Ya, itu benar terjadi, dan itu baru 1 dari segudang manfaat pelukan. Hal tersebut dipaparkan oleh Melly Puspita Sari, international trainer of NLP, hypnotist, psikolog, dan penulis buku Miracle of Hug.


Manfaat Pelukan untuk Anak

“Pelukan adalah sesuatu yang mudah dilakukan oleh semua orangtua, namun memang tak banyak orang yang mengetahui efeknya,” ujar Melly. Untuk itu, ketahui berbagai manfaat pelukan untuk orang tua dan anak berikut ini yuk, Moms.

1. Menunjang perkembangan emosi dan pertumbuhan anak

Mengutip buku The Hug Therapy Book, karya Kathleen Keating, pelukan adalah obat mujarab bagi semua manusia dari berbagai usia, terutama anak-anak.

Menurutnya, anak membutuhkan 4-12 kali pelukan untuk membantu menunjang perkembangan emosi dan pertumbuhannya. Mudah kan, Moms?

2. Meningkatkan kecerdasan otak

Para peneliti dari University of North Carolina, AS, menemukan bahwa pelukan antara orang tua dan anak dapat meningkatkan kecerdasan otak, juga merangsang keluarnya hormon oksitosin. Hormin ini mampu memberikan perasaan tenang pada anak, serta mengurangi racun dari zat berbahaya, derifat glutamat, di otak.

Zat derifat glutamat itu muncul karena stres dan dapat mengakibatkan penyempitan otak. Akibatnya, banyak yang terganggu: fungsi intelektual, perilaku, serta mental anak.

3. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Pelukan juga diyakini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak, sehingga ia enggak gampang sakit, Moms. Seorang profesor psikologi dari University DePauw, Matthew J. Hertenstein, Ph.D, menjelaskan bahwa ketika orang tua memeluk anaknya, maka jumlah hemoglobin atau sel darah merah dalam darah anak akan meningkat.

Peningkatan hemoglobin ini ternyata dapat mencegah penyakit dan bahkan bisa menyembuhkan penyakit juga lho, Moms.

4. Mengurangi rasa sakit

Ibu mana yang tega melihat anaknya kesakitan? Tentu semua ibu ingin anaknya sehat dan ceria. Berita baiknya, rasa sakit anak bisa berkurang hanya dengan berpelukan dengan orang tuanya lho, Moms.

Ini diketahui melalui penelitian yang dilakukan Dr. Elliot Blass, Ph.D, profesor dari departemen psikolog dan neuroscience di University of Massachusetts, Amherst, AS. Ia mengungkapkan bahwa 82 persen bayi yang dipeluk oleh ibu atau ayahnya saat menjalani prosedur standar pengambilan darah, sedikit sekali menunjukkan tanda-tanda stres, seperti meringis atau jantung berdetak kencang.


Lima Gaya Memeluk Anak

Ada berbagai macam cara untuk memeluk Si Kecil, seperti:

1. Bear Hug

Peluk dan dekap seluruh tubuh Si Kecil. Letakkan satu tangan Anda di pinggang dan satu tangan di bahu Si kecil. Berikan ia pelukan ala beruang besar saat Anda ingin memberikannya rasa nyaman atau ketika ia sedang sakit, sedih, dan takut.

2. Butterfly Kisses

Peluk Si Kecil lalu gesekkan hidung Anda ke hidung mungilnya. Ini adalah cara para orang tua Eskimo memeluk anaknya.

3. Cheek Hug

Letakkan kedua tangan Anda di pipi Si Kecil, kemudian peluk. Tempelkan satu sisi pipi Anda ke pipi Si Kecil. Pelukan seperti ini dapat membangkitkan rasa bahagia dan senang.

4. Sandwich Hug

Lakukan pelukan ini bersama suami Anda. Tempatkan Si Kecil di antara Anda dan suami, kemudian letakkan lengan Anda pada pinggang suami, begitu juga sebaliknya. Pelukan seperti ini akan membuat Si Kecil merasa aman, apalagi jika ia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya sedih.

5. Pat and Hug

Sandarkan kepala anak di bahu Anda, lalu letakkan satu tangan Anda di bagian punggungnya. Tepuk-tepuk punggung Si Kecil dengan lembut. Pelukan ini mampu menenangkan Si Kecil yang sedang menangis atau sedih. Selamat berpelukan! (M&B/Tiffany/SW/Dok. Freepik)

Read Full Article

Read for later

Articles marked as Favorite are saved for later viewing.
close
  • Show original
  • .
  • Share
  • .
  • Favorite
  • .
  • Email
  • .
  • Add Tags 

Separate tags by commas
To access this feature, please upgrade your account.
Start your free month
Free Preview